Menurut definisi Organisasi Kesehatan Dunia (World
Health Organization/WHO 1970) efek samping suatu obat adalah
segala sesuatu khasiat yang tidak diinginkan untuk tujuan terapi yang dimaksudkan
pada dosis yang dianjurkan.
Efek samping adakalanya tidak dapat
dihindarkan, misalnya rasa mual pada penggunaan digoksin, ergotamin, atau estrogen
dengan dosis yang melebihi dosis normal. Kadang efek samping merupakan
kelanjutan efek utama sampai tingkat yang tidak diinginkan, misalnya rasa
kantuk pada fenobarbital, bila digunakan sebagai obat epilepsi. Bila efek
samping terlalu hebat dapat dilawan dengan obat lain misalnya obat antimual
(meklizine, proklorperazin) atau obat anti mengantuk (kofein, amfetamin).
Efek
samping obat secara umum dikelompokkan menjadi 2 :
1. Efek
samping yang dapat diperkirakan, meliputi:
ü Efek farmakologi yang
berlebihan (disebut juga efek toksik) dapat disebabkan karena pemberian dosis
relatif yang terlalu besar bagi pasien yang bersangkutan (terutama kelompok
pasien dengan resiko tinggi, seperti bayi, usia lanjut, pasien dengan penurunan
fungsi ginjal atau hati)
ü Gejala penghentian obat
(withdrawal syndrome) merupakan suatu kondisi dimana munculnya gejala penyakit
semula disebabkan karena penghentian pemberian obat. Tindakan
pemberhentian penggunaan obat hendaknya dilakukan secara bertahap.
ü Efek samping yang tidak
berupa efek farmakologi utama, untuk sebagian besar obat umumnya telah dapat
diperkirakan berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan secara
sistematik
sebelum obat mulai digunakan untuk pasien. Efek-efek ini umumnya
dalam derajad ringan namun angka kejadiannya bisa cukup tinggi. Misalnya, rasa
kantuk setelah pemakaian antihistamin; iritasi lambung pada penggunaan
obat-obat kortikosteroid; dll.
2. Efek
samping yang tidak dapat diperkirakan:
Reaksi
Alergi, terjadi sebagai akibat dari reaksi imunologi. Reaksi ini tidak dapat
diperkirakan sebelumnya, seringkali sama sekali tidak tergantung dosis dan
bervariasi pengaruhnya antara satu pasien dengan yang lainnya.Beberapa contoh
bentuk efek samping dari alergi yang seringkali terjadi antara lain:
ü Demam. Umumnya dalam
derajad yang tidak terlalu berat, dan akan hilang dengan sendirinya setelah
penghentian obat beberapa hari.
ü Ruam kulit (skin rashes),
dapat berupa eritema (kulit berwarna merah), urtikaria (bengkak kemerahan),
fotosensitifitasi, dll.
ü Penyakit jaringan ikat,
merupakan gejala lupus eritematosus sistemik, kadang-kadang melibatkan sendi.
ü Gangguan sistem darah,
trombositopenia, neutropenia (atau agranulositosis), anemia hemolitika, dan
anemia aplastika. merupakan efek yang kemungkinan akan dijumpai, meskipun angka
kejadiannya mungkin relatif jarang.
ü Gangguan pernafasan. Asma
akan merupakan kondisi yang sering dijumpai, terutama karena aspirin. Pasien
yang telah diketahui sensitif terhadap aspirin kemungkinan besar juga akan
sensitif terhadap analgetika atau antiinflamasi lain.
ü Reaksi karena faktor
genetik. Pada orang-orang tertentu dengan variasi atau kelainan genetik, suatu
obat mungkin dapat memberikan efek farmakologik yang berlebihan. Efek obatnya
sendiri dapat diperkirakan, namun subjek yang mempunyai kelainan genetik
seperti ini yang mungkin sulit dikenali tanpa pemeriksaan spesifik.
ü Reaksi idiosinkratik.
Istilah idiosinkratik digunakan untuk menunjukkan suatu kejadian efek samping
yang tidak lazim, tidak diharapkan atau aneh, yang tidak dapat diterangkan atau
diperkirakan mengapa bisa terjadi. Jadi reaksi ini dapat terjadi diluar dugaan
Faktor-faktor pendorong
terjadinya efek samping obat
Faktor
bukan obat
Faktor-faktor pendorong
yang tidak berasal dari obat antara lain adalah:
ü Intrinsik dari pasien,
yakni umur, jenis kelamin, genetik, kecenderungan untuk alergi, penyakit, sikap
dan kebiasaan hidup.
ü Ekstrinsik di luar pasien, yakni dokter
(pemberi obat) dan lingkungan, misalnya pencemaran oleh antibiotika
.
b)
Faktor obat
ü Intrinsik dari obat, yaitu
sifat dan potensi obat untuk menimbulkan efek samping.
ü Pemilihan obat.
ü Cara penggunaan obat.
ü Interaksi antar obat.
Upaya
pencegahan
Agar kejadian efek samping dapat ditekan
serendah mungkin, selalu dianjurkan untuk melakukan hal-hal berikut:
ü Selalu harus ditelusur
riwayat rinci mengenai pemakaian obat oleh pasien pada waktu-waktu sebelum
pemeriksaan, baik obat yang diperoleh melalui resep dokter maupun dari
pengobatan sendiri.
ü Gunakan obat hanya bila ada
indikasi jelas, dan bila tidak ada alternatif non-farmakoterapi.
ü Hindari pengobatan dengan
berbagai jenis obat dan kombinasi sekaligus.
ü Berikan perhatian khusus
terhadap dosis dan respons pengobatan pada: anak dan bayi, usia lanjut, dan
pasien-pasien yang juga menderita gangguan ginjal, hepar dan jantung. Pada bayi
dan anak, gejala dini.
ü Efek samping seringkali
sulit dideteksi karena kurangnya kemampuan komunikasi, misalnya untuk gangguan
pendengaran.
ü Perlu ditelaah terus apakah
pengobatan harus diteruskan, dan segera hentikan obat bila dirasa tidak perlu
lagi.
ü Bila dalam pengobatan
ditemukan keluhan atau gejala penyakit baru, atau penyakitnya memberat, selalu
ditelaah lebih dahulu, apakah perubahan tersebut karena perjalanan penyakit,
komplikasi, kondisi pasien memburuk, atau justru karena efek samping obat.
Penanganan
efek samping
Segera hentikan semua obat bila
diketahui atau dicurigai terjadi efek samping. Bukanlah tindakan yang tepat
bila mengatasi efek samping dengan menambah konsumsi obat untuk mengobati efek
yang timbul tanpa disertai dengan penghentian obat yang dicurigai berefek
samping. Hal ini justru akan bernilai tidak efektif , dan efek samping tetap
terus terjadi.
Upaya penanganan klinik tergantung
bentuk efek samping dan kondisi penderita. Pada bentuk-bentuk efek samping
tertentu diperlukan penanganan dan pengobatan yang spesifik. Misalnya untuk
syok anafilaksi (suatu reaksi alergi) diperlukan pemberian adrenalin dan obat
serta tindakan lain untuk mengatasi syok. Contoh lain misalnya pada keadaan alergi,
diperlukan penghentian obat yang dicurigai, pemberian antihistamin atau
kortikosteroid (bila diperlukan)
Ada
5 efek samping dari obat yang terbilang aneh atau berbeda dari efek smaping
yang biasa terjadi (Dikutip dari Howstuffworks), yaitu:
Ø Amnesia
Kondisi ini terjadi jika seseorang secara
tiba-tiba tidak ingat siapa dirnya atau darimana ia berasal. Biasanya amnesia
yang terjadi akibat efek samping obat bukanlah amnesia total tapi kehilangan
memori jangka pendeknya.
Efek samping ini bisa terjadi pada orang yang
mengonsumsi obat Mirapex (dengan nama generik pramipexole) yang digunakan untuk
mengendalikan gejala Parkinson dan pada orang Restless Leg Syndrome (RLS).
Obat lainnya adalah statin yang digunakan
untuk menurunkan kolesterol. Beberapa peneliti berteori bahwa statin dapat menghalangi
pembentukan kolesterol yang diperlukan untuk saraf. Tapi diyakini obat ini
masih memiliki manfaat yang lebih besar dibandingkan efek sampingnya.
- Rasa nyeri dan sakit
Beberapa obat memang ada yang berfungsi untuk
menghilangkan rasa sakit atau nyeri di tubuh, tapi ada obat yang tidak
berhubungan dengan nyeri justru menimbulkan rasa sakit. Orang-orang yang
mengonsumsi antihistamin Allegra (dengan nama generik fexofenadine) untuk
menghilangkan demam dan gejala alergi lain, ada kemungkinan mengalami rasa sakit
otot dan sakit punggung.
- Gangguan penglihatan dan indera lainnya
Beberapa obat yang diminum terkadang
menimbulkan rasa pahit di mulut, tapi jika obat tersebut meninggalkan rasa yang
buruk atau bisa mendistorsi indera perasa maka ada kemungkinan hal tersebut
akibat efek samping dari obat yang diminum.
Salah satu obat yang bisa mempengaruhi fungsi
indera seseorang adalah vasotec (dengan nama generik enalapril) yang digunakan
untuk mengobati darah tinggi dan gagal jantung kongestif. Obat ini bisa
mempengaruhi kelima indera seperti mengurangi rasa penciuman (anosmia),
mengganggu pendengaran (tinnitus) dan masalah mata seperti gangguan penglihatan
dan mata kering.
- Perubahan warna urine
Warna urine memang bisa menunjukkan adanya
hal yang tidak beres dengan tubuh, misalnya ada infeksi atau keracunan zat
besi. Jika urine berwarna hitam ada kemungkinan efek samping akibat mengonsumsi
obat flagyl, furazolidone atau antibiotik lainnya. Urine berwarna ungu ada
kemungkinan sebagai efek samping dari obat phenolphthalein yang digunakan dalam
jangka waktu lama.
Jika urine berwarna hijau ada kemungkinan sebagai
efek samping dari obat elavil dan beberapa antidepresan. Sedangkan jika urine
berwarna biru ada kemungkinan sebagai efek samping dari obat dyrenium, diuretik
atau metilen biru yang digunakan untuk mengurangi iritasi akibat infeksi
kandung kemih
- Halusinasi
Kondisi ini terjadi jika seseorang melihat
atau mendengar sesuatu yang tidak benar-benar ada, halusinasi yang terjadi bisa
berupa visual atau auditori. Beberapa obat yang bisa menyebabkan halusinasi
adalah mirapex dan lariam (dengan nama generik mefloquine) yang diciptakan
untuk mencegah atau mengobati malaria di Angkatan Darat AS.
