Efek samping adakalanya tidak dapat
dihindarkan, misalnya rasa mual pada penggunaan digoksin, ergotamin, atau estrogen
dengan dosis yang melebihi dosis normal. Kadang efek samping merupakan
kelanjutan efek utama sampai tingkat yang tidak diinginkan, misalnya rasa
kantuk pada fenobarbital, bila digunakan sebagai obat epilepsi. Bila efek
samping terlalu hebat dapat dilawan dengan obat lain misalnya obat antimual
(meklizine, proklorperazin) atau obat anti mengantuk (kofein, amfetamin).
Efek
samping obat secara umum dikelompokkan menjadi 2 :
1. Efek
samping yang dapat diperkirakan, meliputi:
ü Efek farmakologi yang
berlebihan (disebut juga efek toksik) dapat disebabkan karena pemberian dosis
relatif yang terlalu besar bagi pasien yang bersangkutan (terutama kelompok
pasien dengan resiko tinggi, seperti bayi, usia lanjut, pasien dengan penurunan
fungsi ginjal atau hati)
ü Gejala penghentian obat
(withdrawal syndrome) merupakan suatu kondisi dimana munculnya gejala penyakit
semula disebabkan karena penghentian pemberian obat. Tindakan
pemberhentian penggunaan obat hendaknya dilakukan secara bertahap.
ü Efek samping yang tidak
berupa efek farmakologi utama, untuk sebagian besar obat umumnya telah dapat
diperkirakan berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan secara
sistematik